Kamis, 15 Desember 2011

Catatan Kecil : KAU PATUT BERTANYA

Mendekati petang, aku kembali bertanya: apakah arti hidup?

Lucunya aku sering menggaungkan pertanyaan ini; baik kemarin, lusa, minggu kemarin, bulan lalu, atau rentang waktu panjang di belakang yang sudah tak bisa lagi kutakar. Lalu saat itu aku akan kembali lupa. Sekejap aku menjalani hidup yang biasa, tanpa repot lagi bertanya-tanya. Namun ada kalanya aku kembali terusik. Apa yang kulihat dan kurasa menjelma jadi satu tongkat panjang yang rajin mengetuk-ngetuk kepala, memaksa aku menempatkan pertanyaan itu lagi di ujung lidah.

Mulanya pagi ini. Subuh. Langit bahkan belum tegas berwarna. Ayam di atas pagar masih mengantuk. Suara kokoknya kalah dengan deru knalpot motorku yang nyaring. Dan tak lama kemudian aku sudah membelah udara jalan raya yang komposisi asapya lebih banyak ketimbang titik embunnya. Selalu setiap pagi, selepas jarak lima kilometer yang kutempuh, aku akan dihadang tiang lampu tiga warna. Kali ini aku berhadapan dengan si merah. Angka di sampingnya berkedip malas mulai dari 126 detik.

Minggu, 27 November 2011

Cerita Kita : "SALAM DALAM PERAHU"

SALAM DALAM PERAHU

Robby Hermawan

Ini sudah kali ketiga aku melihat gadis kecil itu. Rambutnya dikepang dua, kulit menghitam digarang matahari. Kakinya yang kecil menginjak dan memecah buih di bibir pantai. Mulutnya mengulum senyum sembari menggendong benda berwarna-warni di dada. Perahu-perahu kertas.

Lantas setelah air menelan separuh kakinya, ia menunduk dan melepas perahu-perahu itu. Satu-persatu didorongnya dengan lembut, dan perahu-perahu itu bergoyang-goyang diguncang ombak. Satu perahu mulai limbung, yang lain terpelanting, dan beberapa lagi mulai tenggelam. Namun gadis itu tak peduli. Ia malah menangkupkan tangan di depan dada dan merapatkan mata. Bibir berkomat-kamit menaikkan doa.

Karena dirundung penasaran, aku pun menghampirinya. “Perahunya mulai tenggelam,” kataku.

Ia mengintipku dari sudut mata. Aku tersenyum. Kataku lagi, “Untuk siapa perahu-perahu itu?”

Rabu, 09 November 2011

Catatan Kecil : SATU SISI

Kata orang, cinta itu buta.

Kadang aku setuju.
Tapi bukankah sering terdengar adagium lain, bahwa mata adalah jendela hati. Dari benda kecil yang menyempil di rongga wajah itu tampak setumpuk perasaan yang disimpan di ruang hatinya. Benda itu seperti pintu yang membuka, yang mengijinkan aku berjalan di lorongnya, dan menemukan satu jawaban di ujungnya. Jawaban itu akan dibisikkan halus. Jawaban itu akan dituliskan lembut. Meski tak lantang, kau pun tetap dapat menangkap artinya.

Dan dari mata itulah aku tahu sirat rasa apa yang selama ini ia simpan. Ketika aku menatapnya dengan cinta, aku berharap ada getar yang sama dalam balasannya. Namun ternyata tidak. Aku hanya menerima 'kau baik', atau 'kau sahabat pengertian, atau juga 'kita teman selamanya'. Yang ada hanya suka, bukan cinta. Dua kata dengan makna yang terkesan sama, tapi begitu kau lihat lebih dekat, ternyata ada sekat tinggi yang membatasinya.

Jadi perlukah aku buta untuk mencintainya?
Kurasa tak harus aku menjadi orang buta. Justru aku perlu melihat agar kutahu setiap jejak langkah kakinya, agar bisa kutelusuri dan kuiringi di belakang. Dengan ini kutahu di mana hatinya tertanam dan di mana ia menuai kebahagiaan; tidak seperti orang buta yang tak pernah tahu arah, yang mencabut paksa akar dirinya hingga mati mengering.

Rabu, 02 November 2011

Catatan Kecil : JENUH


Peluit kereta ini berbunyi nyaring, disusul suara derak dan keretakan keras, mulai dari lokomotif hingga gerbong-gerbong di belakangnya. Satu desisan panjang juga terdengar, saling beradu sengit antara suara si petugas yang teriak-teriak sambil mengacung-ngacungkan tongkat dan kumpulan orang-orang yang ribut mengejar-ngejar kereta.

Mereka tidak seragam, tak ada tampang kesamaan. Ada orang berkemeja yang baru digosok kemarin sore, ada ibu-ibu yang sudah mandi keringat sambil menarik-narik anaknya, ada bapak tua yang baru saja meloncat ke pintu sembari menggendong ayam, dan di jendela sebelah, penjual kue onde-onde masih sibuk bertukar uang dengan pembelinya. Ibarat seorang penjahit, mereka terlihat seperti kain berbeda warna, tapi digunting dengan pola yang sama. Jatuh dalam satu tujuan.

Aku menyandarkan diri ketika kereta semakin cepat melaju. Isi lambung gerbong sudah sesak. Udara yang pengap diperebutkan banyak orang. Beruntung aku duduk di samping jendela yang kacanya sudah pecah sebelah.

Satu hal telah kusadari ketika aku melihat dengan mata yang sudah lelah ini. Kita semua berjalan di pacuan yang sama, dimana aku pun turut jatuh dalam jebakannya. Tak bisa menghindar lagi. Hari-hari berjalan tak ubahnya seperti kereta ini. Satu peluit tanda kita harus berlari, menempuh satu buah rel panjang dengan tikungan yang mungkin diberi. Tapi tujuannya selalu satu. Dan pasti. Tujuan satu pun bisa tercapai, tapi bukankah akan muncul satu tujuan lain, hingga bahkan mungkin harus berputar dan mengulang lagi. Di mana titik akhirnya?, mungkin kau akan bertanya. Aku cuma punya satu jawaban, sampai kereta ini usang dan menunggu untuk dibuang.

Aku jadi ingat film-film robot yang sering kulihat di teve. Mereka kelihatannya hidup, bisa berjalan, bisa berpikir, dan kadang bisa melawan. Oh, aku harus bertepuk tangan pada si robot yang bisa melawan itu. Tapi itu cuma di film, kan? Biasanya film cuma mengumbar mimpi yang menggiurkan. Badan ini memang seperti robot, cuma sayang tidak diprogram untuk melawan. Mungkin prosesornya bagus, tapi tetap saja
butuh baterai untuk terus mengaliri listrik ke sirkuitnya. Tak ada baterai, tak ada listrik, tak ada hidup; lagi, menunggu untuk dibuang.

Satu helaan napasku seakaan berbicara. Aku lelah. Aku butuh tempat dimana aku tak terikat. Aku butuh udara dimana paru-paruku bisa menyerap dengan bebas. Tapi dimana tempat itu? Burung yang terbang pun tak punya, ia juga datang dan pergi di jalur yang sama. Begitupun rumput-rumput yang terbuai angin itu, selalu tumbuh, meninggi, mengering, dan mati. Satu titik akhir itu memang berlaku untuk semuanya.

Tak terkecuali.

Peluit itu kembali berbunyi. Satu tujuan sudah sampai. Dua-tiga orang turun, dua-tiga orang juga naik lagi. Dengan berat yang sama, kereta ini kembali berlari.



R.

Sabtu, 16 Juli 2011

Cerita Kolaborasi (From The Beginning)

Pernah melakukan permainan 'Saling Sambung Cerita'??

Ini adalah salah satu permainan asik yang suka saya lakukan ketika masih jaman SMU dulu. Jadi cara bermainnya gini, saya dan partner saya membuat suatu cerita yang tokoh, premis, alur dan plotnya tidak ditentukan sebelumnya. Salah satu dari kita kemudian memulai menulis, contohnya saya dulu yang memulai cerita. Awalnya saya memasukkan satu kalimat, satu paragraf, atau beberapa paragraf sekaligus. Ini dilakukan secara otodidak, pokoknya tulis aja apa yang ada di kepala.

Nah, berikutnya setelah selesai, partner saya melanjutkan cerita itu dengan kalimat atau paragrafnya. Begitulah seterusnya, secara berganti-ganti kita saling sambung menyambung cerita. Hasilnya terciptalah suatu tulisan panjang hasil kolaborasi kedua penulis amatir. Hehehehe...

Gimana? Asik kan? Ya, meskipun kadang hasil akhir ceritanya suka ngawur ke mana-mana, setidaknya permainan ini bagus dilakukan untuk melatih teknik menulis.

Senin, 04 Juli 2011

Review Buku : Hush, Hush


Judul        : Hush, Hush
Penulis     : Becca Fitzpatrick
Penerbit   : Ufuk Press
Tebal       : 488 halaman
Rating      : 2/5

Saya sesungguhnya sudah menyelesaikan novel ini jauh sebelum saya menulis review ini. According to Goodreads, saya sudah mulai membuka halaman pertama ini pada tanggal 7 Mei 2011, dan berhasil menyikat habis kurang lebih dalam waktu 3-4 hari. Pantaskah diberi pujian pada buku ini hingga saya bisa secepat itu menyelesaikannya? Well, biasanya ada dua alasan konkret kenapa saya sampai ngebut dengan kecepatan penuh pada saat membaca buku. Pertama adalah buku itu benar-benar menarik hingga saya susah untuk menutup buku itu, atau kedua buku itu benar-benar datar, gak penting, hingga saya cepet-cepet menyelesaikannya sebelum mood saya bertambah buruk (lebih baik saya baca daripada saya robek). Nah, bagaimana sengan si Hush Hush ini? Kita lacak saja satu per satu isinya untuk tahu alasan mana yang saya pakai untuk menyelesaikan buku ini.

Minggu, 22 Mei 2011

Film dan Setting Favorit


Kali ini saya mau bercuap-cuap tentang film, ah…

Berbicara tentang film, saya jadi mau mengeluh sedikit karena betapa minimnya film-film impor berkualitas yang masuk ke bioskop indonesia sekarang ini. Praktis dalam waktu empat bulan belakangan ini, saya sudah jarang mengunjungi bioskop lagi, tidak seperti waktu-waktu sebelumnya. Coba ditengok film-film yang ada sekarang, beberapa film impor jadul terpaksa diputer; belom lagi kuntilanak, pocong, suster ngesot, dan teman-temannya yang pengen eksis di layar bioskop. Gak adanya film-film hollywood baru yang masuk ke indonesia ini lantaran karena adanya embel-embel pajak yang diributin di sana-sini. Gak tahu deh persisnya seperti apa, karena beritanya udah rancu di mana-mana. Yang jelas, satu kesimpulan bisa ditarik, yakni PEMERINTAH AMAT SANGAT BAIK, sehingga orang-orang yang gak bisa nonton film-film baru akhirnya lari ke dvd-dvd bajakan. Yup, Hidup DVD BAJAKAN!!!

Tapi untungnya, kemarin ini ada salah satu film hollywood baru yang bisa masuk bioskop indo, yaitu film Source Code. Thanks God! *narik napas lega* Pasalnya, dengan adanya film ini, saya bisa menghirup udara bioskop lagi yang saya rindukan. *berlinang air mata*

Nah, tepatnya hari Rabu kemarin saya akhirnya nonton film ini juga. Ceritanya sih lumayan, bertema action sci-fi, dan bercerita tentang suatu organisasi pemerintah yang mempunyai kemampuan untuk memasuki pikiran orang lain, dengan menciptakan dunia orang itu berdasarkan short memory yang masih ada di dalam otaknya. Saya gak usah berbicara panjang lebar tentang film ini deh, soalnya saya ingin membahas setting-setting yang biasa dipakai dalam suatu film.