Rintik hujan tak pernah sanggup untuk kuhitung.
Terlampau banyak dan terlalu sering butir airnya jatuh dan memecah.
Mungkin sebanyak itu pula mataku sengaja menyentuh punggungnya.
Punggung lelaki yang sederhana, tak istimewa.
Tak pernah ada sayap yang mencuat di belikatnya.
Namun aku dibuat percaya bahwa tak selamanya sayap dimiliki malaikat.
Kali ini punggung itu berlapis jaket kulit coklat.
Hampir senada dengan rambut ikalnya yang gelap.
Sedikit basah.
Mungkin tertimpa gerimis sebelum ia datang dan duduk di sudut sana.
Satu dua kali dia memiringkan kepala hingga bisa kulihat sebagian wajahnya.
Kadang satu senyum tersungging di sudut bibirnya.
Merubah dingin menjadi hangat, membuat malam bertambah cahaya.
Belum genap sebulan kuinjak kota ini.
Baru hitungan jari cafe mungil ini kudatangi.
Tapi aku sudah bisa merekam kebiasaan si lelaki.
Senin, Rabu, dan Sabtu, selalu tiba tepat waktu.
Duduk di bangku yang sama, ditemani secangkir kopi dan satu buku.
Dalam waktu yang sama tanganku bergerak di atas kertas.
Mataku berkali-kali melompat dari punggungnya ke sketsa yang kubuat.
Kugambar dirinya.
Tidak sesuai dengan apa yang kulihat, tapi kulukis menurut apa yang kubayang.
Hasrat.
Sebuah rasa yang sebelumnya jauh tenggelam.
Kini timbul ketika pertama kali kutangkap sosoknya.
Persis lumpur sungai yang naik diacak batu.
Dan lelaki ini yang jadi si pelempar.
Tanganku terus bergerak.
Otakku kembali memilah-milah tumpukan memori yang kusimpan.
Gambar-gambar. Berbeda satu dengan yang lainnya.
Berjalan cepat seperti roll film yang diputar tanpa jeda.
Semakin menuju akhir, semakin tebal peluh membasahi dahi.
Badanku gemetar, dingin, seolah seiiris es disapu ke sekujur kulit.
Di potongan film terakhir itu, segalanya terhenti.
Saat itu malam.
Aku dan seorang lelaki berambut ikal.
Berdua dalam diam di bawah halte menunggu hujan.
Satu detik memandang mata sudah cukup bagi kami berdua.
Tak pernah ada yang salah dengan pertemuan itu.
Dengan rasa itu.
Akankah terulang lagi? Aku bertanya.
Jawaban tidak hanya sempat berbisik kecil dan menguap hilang.
Kalah dengan rasa ingin yang tak henti berdenyut.
Tak ada salahnya untuk mengenal nama.
Maka aku merapikan sketsaku.
Menarik satu hela napas.
Kuhampiri lelaki itu.
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 25 Oktober 2012
Kamis, 15 Desember 2011
fiksi : KAU PATUT BERTANYA
Mendekati petang, aku kembali bertanya: apakah arti hidup?
Lucunya aku sering menggaungkan pertanyaan ini; baik kemarin, lusa, minggu kemarin, bulan lalu, atau rentang waktu panjang di belakang yang sudah tak bisa lagi kutakar. Lalu saat itu aku akan kembali lupa. Sekejap aku menjalani hidup yang biasa, tanpa repot lagi bertanya-tanya. Namun ada kalanya aku kembali terusik. Apa yang kulihat dan kurasa menjelma jadi satu tongkat panjang yang rajin mengetuk-ngetuk kepala, memaksa aku menempatkan pertanyaan itu lagi di ujung lidah.
Mulanya pagi ini. Subuh. Langit bahkan belum tegas berwarna. Ayam di atas pagar masih mengantuk. Suara kokoknya kalah dengan deru knalpot motorku yang nyaring. Dan tak lama kemudian aku sudah membelah udara jalan raya yang komposisi asapya lebih banyak ketimbang titik embunnya. Selalu setiap pagi, selepas jarak lima kilometer yang kutempuh, aku akan dihadang tiang lampu tiga warna. Kali ini aku berhadapan dengan si merah. Angka di sampingnya berkedip malas mulai dari 126 detik.
Lucunya aku sering menggaungkan pertanyaan ini; baik kemarin, lusa, minggu kemarin, bulan lalu, atau rentang waktu panjang di belakang yang sudah tak bisa lagi kutakar. Lalu saat itu aku akan kembali lupa. Sekejap aku menjalani hidup yang biasa, tanpa repot lagi bertanya-tanya. Namun ada kalanya aku kembali terusik. Apa yang kulihat dan kurasa menjelma jadi satu tongkat panjang yang rajin mengetuk-ngetuk kepala, memaksa aku menempatkan pertanyaan itu lagi di ujung lidah.
Mulanya pagi ini. Subuh. Langit bahkan belum tegas berwarna. Ayam di atas pagar masih mengantuk. Suara kokoknya kalah dengan deru knalpot motorku yang nyaring. Dan tak lama kemudian aku sudah membelah udara jalan raya yang komposisi asapya lebih banyak ketimbang titik embunnya. Selalu setiap pagi, selepas jarak lima kilometer yang kutempuh, aku akan dihadang tiang lampu tiga warna. Kali ini aku berhadapan dengan si merah. Angka di sampingnya berkedip malas mulai dari 126 detik.
Senin, 05 Desember 2011
fiksi : SEPASANG CANGKIR
Segalanya menjadi berbeda ketika kau hanya diam dan menatap. Tak perlu lidah untuk mengumbar kata. Kau hanya cukup untuk merasa agar semua tersimpan menjadi kenangan. Dan kenangan bukanlah besi yang bisa mengkarat oleh gerusan waktu.
Lembar kenangan itu mulai menyisip ketika aku masih berwujub janin berupa segunduk lempung basah. Rahimku adalah satu perbot kayu bulat lengkap dengan tangkupan kedua tangan pria itu. Jari-jarinya tak kunjung lelah menumbuhkanku—memilin, memutar, mengelus, atau memercikku berkali-kali dengan air. Lambat laun aku mulai bertransformasi, dari satu bentuk yang acak dan liat ke satu bentuk lain yang utuh dan padat. Sebuah cangkir dengan satu lengkungan tangan yang menempel di pinggang.
Lama diriku dipapar terik matahari. Rasanya enak, hangat dan segar. Kemudian aku digiring lagi ke satu tempat lain dengan panas yang berpuluh kali lipat. Kali ini hawa baranya mengalirkan gelenyar nikmat ke sekujur tubuhku. Suara desisan dan percikan api membentuk harmoni pengiring tidurku.
Lembar kenangan itu mulai menyisip ketika aku masih berwujub janin berupa segunduk lempung basah. Rahimku adalah satu perbot kayu bulat lengkap dengan tangkupan kedua tangan pria itu. Jari-jarinya tak kunjung lelah menumbuhkanku—memilin, memutar, mengelus, atau memercikku berkali-kali dengan air. Lambat laun aku mulai bertransformasi, dari satu bentuk yang acak dan liat ke satu bentuk lain yang utuh dan padat. Sebuah cangkir dengan satu lengkungan tangan yang menempel di pinggang.
Lama diriku dipapar terik matahari. Rasanya enak, hangat dan segar. Kemudian aku digiring lagi ke satu tempat lain dengan panas yang berpuluh kali lipat. Kali ini hawa baranya mengalirkan gelenyar nikmat ke sekujur tubuhku. Suara desisan dan percikan api membentuk harmoni pengiring tidurku.
Minggu, 27 November 2011
fiksi : CERITA KITA - SALAM DALAM PERAHU
SALAM DALAM PERAHU
Robby Hermawan
Ini sudah kali ketiga aku melihat gadis kecil itu. Rambutnya dikepang dua, kulit menghitam digarang matahari. Kakinya yang kecil menginjak dan memecah buih di bibir pantai. Mulutnya mengulum senyum sembari menggendong benda berwarna-warni di dada. Perahu-perahu kertas.
Lantas setelah air menelan separuh kakinya, ia menunduk dan melepas perahu-perahu itu. Satu-persatu didorongnya dengan lembut, dan perahu-perahu itu bergoyang-goyang diguncang ombak. Satu perahu mulai limbung, yang lain terpelanting, dan beberapa lagi mulai tenggelam. Namun gadis itu tak peduli. Ia malah menangkupkan tangan di depan dada dan merapatkan mata. Bibir berkomat-kamit menaikkan doa.
Karena dirundung penasaran, aku pun menghampirinya. “Perahunya mulai tenggelam,” kataku.
Ia mengintipku dari sudut mata. Aku tersenyum. Kataku lagi, “Untuk siapa perahu-perahu itu?”
Robby Hermawan
Ini sudah kali ketiga aku melihat gadis kecil itu. Rambutnya dikepang dua, kulit menghitam digarang matahari. Kakinya yang kecil menginjak dan memecah buih di bibir pantai. Mulutnya mengulum senyum sembari menggendong benda berwarna-warni di dada. Perahu-perahu kertas.
Lantas setelah air menelan separuh kakinya, ia menunduk dan melepas perahu-perahu itu. Satu-persatu didorongnya dengan lembut, dan perahu-perahu itu bergoyang-goyang diguncang ombak. Satu perahu mulai limbung, yang lain terpelanting, dan beberapa lagi mulai tenggelam. Namun gadis itu tak peduli. Ia malah menangkupkan tangan di depan dada dan merapatkan mata. Bibir berkomat-kamit menaikkan doa.
Karena dirundung penasaran, aku pun menghampirinya. “Perahunya mulai tenggelam,” kataku.
Ia mengintipku dari sudut mata. Aku tersenyum. Kataku lagi, “Untuk siapa perahu-perahu itu?”
Rabu, 09 November 2011
fiksi : SATU SISI
Kata orang, cinta itu buta.
Kadang aku setuju.
Tapi bukankah sering terdengar adagium lain, bahwa mata adalah jendela hati. Dari benda kecil yang menyempil di rongga wajah itu tampak setumpuk perasaan yang disimpan di ruang hatinya. Benda itu seperti pintu yang membuka, yang mengijinkan aku berjalan di lorongnya, dan menemukan satu jawaban di ujungnya. Jawaban itu akan dibisikkan halus. Jawaban itu akan dituliskan lembut. Meski tak lantang, kau pun tetap dapat menangkap artinya.
Dan dari mata itulah aku tahu sirat rasa apa yang selama ini ia simpan. Ketika aku menatapnya dengan cinta, aku berharap ada getar yang sama dalam balasannya. Namun ternyata tidak. Aku hanya menerima 'kau baik', atau 'kau sahabat pengertian, atau juga 'kita teman selamanya'. Yang ada hanya suka, bukan cinta. Dua kata dengan makna yang terkesan sama, tapi begitu kau lihat lebih dekat, ternyata ada sekat tinggi yang membatasinya.
Jadi perlukah aku buta untuk mencintainya?
Kurasa tak harus aku menjadi orang buta. Justru aku perlu melihat agar kutahu setiap jejak langkah kakinya, agar bisa kutelusuri dan kuiringi di belakang. Dengan ini kutahu di mana hatinya tertanam dan di mana ia menuai kebahagiaan; tidak seperti orang buta yang tak pernah tahu arah, yang mencabut paksa akar dirinya hingga mati mengering.
Kadang aku setuju.
Tapi bukankah sering terdengar adagium lain, bahwa mata adalah jendela hati. Dari benda kecil yang menyempil di rongga wajah itu tampak setumpuk perasaan yang disimpan di ruang hatinya. Benda itu seperti pintu yang membuka, yang mengijinkan aku berjalan di lorongnya, dan menemukan satu jawaban di ujungnya. Jawaban itu akan dibisikkan halus. Jawaban itu akan dituliskan lembut. Meski tak lantang, kau pun tetap dapat menangkap artinya.
Dan dari mata itulah aku tahu sirat rasa apa yang selama ini ia simpan. Ketika aku menatapnya dengan cinta, aku berharap ada getar yang sama dalam balasannya. Namun ternyata tidak. Aku hanya menerima 'kau baik', atau 'kau sahabat pengertian, atau juga 'kita teman selamanya'. Yang ada hanya suka, bukan cinta. Dua kata dengan makna yang terkesan sama, tapi begitu kau lihat lebih dekat, ternyata ada sekat tinggi yang membatasinya.
Jadi perlukah aku buta untuk mencintainya?
Kurasa tak harus aku menjadi orang buta. Justru aku perlu melihat agar kutahu setiap jejak langkah kakinya, agar bisa kutelusuri dan kuiringi di belakang. Dengan ini kutahu di mana hatinya tertanam dan di mana ia menuai kebahagiaan; tidak seperti orang buta yang tak pernah tahu arah, yang mencabut paksa akar dirinya hingga mati mengering.
Rabu, 02 November 2011
fiksi : JENUH
Peluit kereta ini berbunyi nyaring, disusul suara derak dan keretakan keras, mulai dari lokomotif hingga gerbong-gerbong di belakangnya. Satu desisan panjang juga terdengar, saling beradu sengit antara suara si petugas yang teriak-teriak sambil mengacung-ngacungkan tongkat dan kumpulan orang-orang yang ribut mengejar-ngejar kereta.
Mereka tidak seragam, tak ada tampang kesamaan. Ada orang berkemeja yang baru digosok kemarin sore, ada ibu-ibu yang sudah mandi keringat sambil menarik-narik anaknya, ada bapak tua yang baru saja meloncat ke pintu sembari menggendong ayam, dan di jendela sebelah, penjual kue onde-onde masih sibuk bertukar uang dengan pembelinya. Ibarat seorang penjahit, mereka terlihat seperti kain berbeda warna, tapi digunting dengan pola yang sama. Jatuh dalam satu tujuan.
Aku menyandarkan diri ketika kereta semakin cepat melaju. Isi lambung gerbong sudah sesak. Udara yang pengap diperebutkan banyak orang. Beruntung aku duduk di samping jendela yang kacanya sudah pecah sebelah.
Satu hal telah kusadari ketika aku melihat dengan mata yang sudah lelah ini. Kita semua berjalan di pacuan yang sama, dimana aku pun turut jatuh dalam jebakannya. Tak bisa menghindar lagi. Hari-hari berjalan tak ubahnya seperti kereta ini. Satu peluit tanda kita harus berlari, menempuh satu buah rel panjang dengan tikungan yang mungkin diberi. Tapi tujuannya selalu satu. Dan pasti. Tujuan satu pun bisa tercapai, tapi bukankah akan muncul satu tujuan lain, hingga bahkan mungkin harus berputar dan mengulang lagi. Di mana titik akhirnya?, mungkin kau akan bertanya. Aku cuma punya satu jawaban, sampai kereta ini usang dan menunggu untuk dibuang.
Aku jadi ingat film-film robot yang sering kulihat di teve. Mereka kelihatannya hidup, bisa berjalan, bisa berpikir, dan kadang bisa melawan. Oh, aku harus bertepuk tangan pada si robot yang bisa melawan itu. Tapi itu cuma di film, kan? Biasanya film cuma mengumbar mimpi yang menggiurkan. Badan ini memang seperti robot, cuma sayang tidak diprogram untuk melawan. Mungkin prosesornya bagus, tapi tetap saja
butuh baterai untuk terus mengaliri listrik ke sirkuitnya. Tak ada baterai, tak ada listrik, tak ada hidup; lagi, menunggu untuk dibuang.
Satu helaan napasku seakaan berbicara. Aku lelah. Aku butuh tempat dimana aku tak terikat. Aku butuh udara dimana paru-paruku bisa menyerap dengan bebas. Tapi dimana tempat itu? Burung yang terbang pun tak punya, ia juga datang dan pergi di jalur yang sama. Begitupun rumput-rumput yang terbuai angin itu, selalu tumbuh, meninggi, mengering, dan mati. Satu titik akhir itu memang berlaku untuk semuanya.
Tak terkecuali.
Peluit itu kembali berbunyi. Satu tujuan sudah sampai. Dua-tiga orang turun, dua-tiga orang juga naik lagi. Dengan berat yang sama, kereta ini kembali berlari.
R.
Sabtu, 16 Juli 2011
fiksi : Cerita Kolaborasi (From The Beginning)
Pernah melakukan permainan 'Saling Sambung Cerita'??
Ini adalah salah satu permainan asik yang suka saya lakukan ketika masih jaman SMU dulu. Jadi cara bermainnya gini, saya dan partner saya membuat suatu cerita yang tokoh, premis, alur dan plotnya tidak ditentukan sebelumnya. Salah satu dari kita kemudian memulai menulis, contohnya saya dulu yang memulai cerita. Awalnya saya memasukkan satu kalimat, satu paragraf, atau beberapa paragraf sekaligus. Ini dilakukan secara otodidak, pokoknya tulis aja apa yang ada di kepala.
Nah, berikutnya setelah selesai, partner saya melanjutkan cerita itu dengan kalimat atau paragrafnya. Begitulah seterusnya, secara berganti-ganti kita saling sambung menyambung cerita. Hasilnya terciptalah suatu tulisan panjang hasil kolaborasi kedua penulis amatir. Hehehehe...
Gimana? Asik kan? Ya, meskipun kadang hasil akhir ceritanya suka ngawur ke mana-mana, setidaknya permainan ini bagus dilakukan untuk melatih teknik menulis.
Ini adalah salah satu permainan asik yang suka saya lakukan ketika masih jaman SMU dulu. Jadi cara bermainnya gini, saya dan partner saya membuat suatu cerita yang tokoh, premis, alur dan plotnya tidak ditentukan sebelumnya. Salah satu dari kita kemudian memulai menulis, contohnya saya dulu yang memulai cerita. Awalnya saya memasukkan satu kalimat, satu paragraf, atau beberapa paragraf sekaligus. Ini dilakukan secara otodidak, pokoknya tulis aja apa yang ada di kepala.
Nah, berikutnya setelah selesai, partner saya melanjutkan cerita itu dengan kalimat atau paragrafnya. Begitulah seterusnya, secara berganti-ganti kita saling sambung menyambung cerita. Hasilnya terciptalah suatu tulisan panjang hasil kolaborasi kedua penulis amatir. Hehehehe...
Gimana? Asik kan? Ya, meskipun kadang hasil akhir ceritanya suka ngawur ke mana-mana, setidaknya permainan ini bagus dilakukan untuk melatih teknik menulis.
Selasa, 19 April 2011
fiksi : WAIT AND HOPE
Sinar matahari sore menyorot lewat jendela kotak-kotak di sebelah kiri Lionel, menembus gorden berenda yang tipis dan menciptakan seleret cahaya samar yang jatuh di lantai batu berwarna hijau. Lantai bangsal ini disusun dari potongan-potongan ubin keras yang lebar, dan sepanjang hari mengeluarkan aroma cairan pembersih antiseptik yang digosokkan secara rutin di atasnya. Pagi jam delapan dan sore jam empat, si wanita gemuk – yang belakangan diketahui Lionel bernama Mrs. Tyler – selalu terlihat kerepotan dengan ember alumunium dan gagang pel, berusaha menggosok ubin itu dengan susah payah namun tetap ramah menyapa pasien di setiap bangsal yang dilewatinya.
Lionel melihat sekilas jam besar yang ditaruh tinggi di atas dinding di sebelah kanannya. Jam tiga tepat, yang berarti Mrs.Tyler pasti akan datang setidaknya satu jam lagi. Kebiasaan dan ketepatan waktu dalam rutinitas dokter, perawat, petugas pembersih, atau bahkan pengantar pesan, sepertinya secara tidak sengaja disesuaikan dengan pasien-pasien yang mereka rawat. Ketepatan militer, itu yang selalu mereka sebutkan ketika Lionel mencoba menyinggungnya.
Lionel melihat sekilas jam besar yang ditaruh tinggi di atas dinding di sebelah kanannya. Jam tiga tepat, yang berarti Mrs.Tyler pasti akan datang setidaknya satu jam lagi. Kebiasaan dan ketepatan waktu dalam rutinitas dokter, perawat, petugas pembersih, atau bahkan pengantar pesan, sepertinya secara tidak sengaja disesuaikan dengan pasien-pasien yang mereka rawat. Ketepatan militer, itu yang selalu mereka sebutkan ketika Lionel mencoba menyinggungnya.
Rabu, 06 April 2011
fiksi : MY GIFT
Jam di meja mengeluarkan bunyi detaknya yang halus, pelan, dan menghipnotis.
Jika saja aku mau mencoba mendengarkannya pelan-pelan, mungkin aku bisa menghitungnya tanpa harus repot-repot melihat jam itu. Tapi untuk apa aku melihatnya, toh tidak berati apa-apa bagiku. Wujud jam itu mungkin biasa saja, sesuai dengan apa yang bisa kubayangkan. Tiga buah jarum yang berputar dengan sederet angka melingkar, Mom mengatakannya seperti itu saat aku menerimanya sebagai kado ulang tahunku yang ke sembilan - persis enam tahun lalu. Dan di belakangnya ada pigura yang kuselipkan fotomu yang cantik, Mom menambahkan.
Saat-saat tertentu perbedaan waktu memang kadang menjadi kendala bagiku, ya aku harus mengakuinya. Namun aku dengan bangga menyatakan kalau aku memiliki keahlian khusus untuk yang satu ini. Entah karena Tuhan memberikannya secara sengaja untukku, atau sebagai rasa permohonan maaf-Nya karena telah lalai menciptakan diriku, aku tahu dengan pasti bahwa apa pun alasannya, aku mengartikan semua ini sebagai satu anugerah.
Jika saja aku mau mencoba mendengarkannya pelan-pelan, mungkin aku bisa menghitungnya tanpa harus repot-repot melihat jam itu. Tapi untuk apa aku melihatnya, toh tidak berati apa-apa bagiku. Wujud jam itu mungkin biasa saja, sesuai dengan apa yang bisa kubayangkan. Tiga buah jarum yang berputar dengan sederet angka melingkar, Mom mengatakannya seperti itu saat aku menerimanya sebagai kado ulang tahunku yang ke sembilan - persis enam tahun lalu. Dan di belakangnya ada pigura yang kuselipkan fotomu yang cantik, Mom menambahkan.
Saat-saat tertentu perbedaan waktu memang kadang menjadi kendala bagiku, ya aku harus mengakuinya. Namun aku dengan bangga menyatakan kalau aku memiliki keahlian khusus untuk yang satu ini. Entah karena Tuhan memberikannya secara sengaja untukku, atau sebagai rasa permohonan maaf-Nya karena telah lalai menciptakan diriku, aku tahu dengan pasti bahwa apa pun alasannya, aku mengartikan semua ini sebagai satu anugerah.
Jumat, 10 Juli 2009
fiksi : ESOK

Seperti biasanya aku menghabiskan waktu soreku, aku duduk berselonjor di atas trotoar sembari menyandarkan tongatku pada pagar di belakangku. Aku menghela napas, menghirup udara berdebu yang ajaibnya tetap bisa memberikan hawa sejuk bagiku. Sudah hampir seharian ini aku berjalan, dan kini aku merasakan akibatnya. Kaki kiriku - yang hanya satu-satunya bisa kugunakan ini - semakin terasa berdenyut-denyut seolah ada segerombolan serangga yang sedang menghisap darahku secara perlahan-lahan.
Tapi lagi-lagi aku mengingat apa yang selalu menjadi semangat dan tekatku. Aku takkan pernah mengeluh. Hidup sudah ada jalannya, begitu kata orang tua dulu, dan kini aku mengerti apa yang mereka maksud.
Sambil menyeka keringat di kening dan leherku, aku mengambil sebungkus plastik hitam yang kusangkutkan di ujung tongkatku tadi. Aku memegang isi di dalamnya, dan masih terasa hangat di tanganku. Aku harus banyak berterima kasih pada Mbok Jarmi, batinku.
Sebelum aku sampai di tempat peristirahatanku ini, aku memang biasa mampir di warteg Mbok Jarmi di ujung jalan sana. Dengan uang seadanya yang kupegang, Mbok Jarmi selalu memberikan aku makanan yang lebih, bahkan terkadang aku menganggapnya terlalu istimewa. Pernah satu aku kali aku hanya sanggup membeli sebungkus nasi tanpa lauk apa pun, dan Mbok Jarmi, dengan senyum keibuannya yang hangat, memberikan aku dua potong tempe, satu sendok sayur daun singkong, dan sebungkus air putih yang aku terima dengan segala syukur.
Aku merasa dengan segala apa pun yg kupunya aku tak akan pernah sanggup membayar rasa terima kasihku pada Mbok Jarmi. Karena itu untuk menghormatinya, aku selalu menghindar dan tak pernah berani-berani mencoba untuk makan di tempatnya berjualan. Aku takut kalau aku terlihat berada di sana, pengunjung warteg Mbok Jarmi akan merasa terganggu dan berimbas pada dagangan Mbok Jarmi sendiri.
Lebih baik aku di sini saja, kataku lagi. Dengan beralaskan aspal berdebu dan kotor ini, aku masih bisa menikmati dan mensyukuri apa yang bisa kudapat setiap harinya.
Selasa, 19 Mei 2009
fiksi : THE LAST
Sherry membuka laci meja belajarnya, mengambil sebuah bolpoin berwarna merah cerah, dan mencoretkannya ke salah satu angka pada lembaran bulan Mei di kalender mungilnya. Dua hari lagi, katanya dalam hati. Ia lalu bergerak sedikit di kursinya dan memperlebar celah jendela yang sudah terbuka sedari tadi, berusaha membujuk angin malam yang entah kenapa enggan berhembus.Entah hanya khayalannya saja atau karena perasaannya yang memang sedang melambung tinggi, Sherry merasa kalau bulan yang ada di hadapannya - yang biasanya kuning pucat - kini berwarna lebih terang dan merona, seolah menyunggingkan senyumannya yang lembut.
Dua hari lagi adalah ulang tahunku, katanya lagi sembari tersenyum. Hari itu adalah hari yang sudah ditunggu-tunggunya sejak berbulan-bulan lalu. Ia tahu itu akan menjadi hari yang spesial untuknya.
Tapi sebenarnya bukanlah hadiah atau kecupan sayang dari kedua orang tuanya yang membuat Sherry begitu senang. Bukan juga kado-kado lucu dari teman-temannya yang membuatnya ingin mempercepat hari itu. Memang ia sudah tahu akan ada hidangan-hidangan terbaik ibunya, termasuk puding coklat manis kegemarannya itu. Bahkan hadiah dari ayahnya pun sudah diberikan beberapa hari yang lau, satu set komputer terbaru yang sudah diidam-idamkannya sejak dulu. Bukan. Bukan itu semua yang menorehkan senyuman di wajah Sherry saat ini.
Kamis, 22 Januari 2009
Digglose's case : Who was lie ?
“Aku benar-benar tidak melakukannya! Aku bersumpah kalau aku tidak bersalah!” seru Carl Ferguson di hadapan dua orang polisi berseragam yang duduk di seberangnya. Sudah lebih dari setengah jam ini ia berada di ruang interogasi kepolisian London. Apa yang baru saja terjadi beberapa jam yang lalu ini sunguh tidak bisa dipercayainya.
Salah satu petugas polisi yang di depannya itu menatapnya dengan sorot mata dingin. “Kami sudah memiliki buktinya. Kalau saja kau mau mengakuinya, masalah ini akan cepat selesai!” katanya tegas.
Carl menggebrak meja dengan tangannya yang sudah terborgol. “Kalian gila!” sergahnya. “Kalian sudah salah menangkap orang!”. Dengan napas terengah-engah karena kesal, ia menatap sebuah cermin besar yang berada di tembok sisi kanannya. Ia tahu kalau di baliknya ada sebuah ruangan yang dipakai para polisi brengsek itu untuk melihatnya diinterogasi.
Kamis, 15 Januari 2009
Digglose' case : The Black Murderer
Anthony Digglose memarkirkan mobilnya dengan hati-hati di pekarangan rumah milik keluarga besar McDougall. Herald McDougall, pemilik perusahaan berlian yang besar di London, ditemukan tewas tadi malam di kediamannya.
George Barkned, sahabat karib Digglose dari Scotland Yard, menginap di kediaman McDougall dan kebetulan ia juga lah yang menemukan korban.
Kediaman McDougall adalah rumah besar berlantai dua, bercat putih dan memiliki pintu kayu berpelitur dengan jendela besar di kanan kirinya. Di salah satu sisi halamannya terdapat beberapa pohon pinus dan rerumputan yang di tata sedemikian rupa.
“Ah, kau datang juga akhirnya!” seru George sambil menghela napas begitu melihat Digglose datang memasuki ruang tamu, tempat dimana terjadi pembunuhan itu.
Sabtu, 10 Januari 2009
Digglose' case : Case From Spain
Van De Goviere adalah sebuah nama perusahaan tambang terbesar di pesisir Spanyol. Morgan Le Fay, pemilik perusahaan tersebut mengalami suatu kejadian yang dapat merugikan perusahaannya. Sebuah cek dari relasinya di Canada senilai lima ratus juta US dollar tiba-tiba saja menghilang dari ruang kerjanya.
Kepala Bagian Divisi Investigasi Kepolisian Spanyol, Borgine Montenegro, segera menghubungi Anthony Digglose.
Jumat, 09 Januari 2009
Digglose' case : Thief in Samurai's House
Ryuji Hitomori mengangkat katana-nya tinggi-tinggi, mengayunkannya beberapa kali, dan kembali meletakannya.
“Kurasa ini hebat!” komentar Digglose sambil berdecak kagum.
Ryuji Hitomori adalah sahabat lama Anthony Digglose. Ia adalah seorang ahli kendo yang terkenal di Jepang. Sudah dua hari ini Digglose berkunjung ke rumahnya di pinggiran kota Osaka.
“Jadi ini betul-betul asli dari era Tokugawa?” tanya Digglose.
“Ya, tentu saja,” jawab Ryuji cepat. “Kubeli pedang ini dua bulan lalu. Asli buatan Shabuto Arai, seorang anggota Shinsengumi.”
“Kalau aku tidak salah ingat, kau juga memiliki puluhan pedang lain kan?” tanya Digglose lagi.
“Betul. Aku menyimpan semuanya di dojo. Oh ya, aku juga ingin memperlihatkanmu pedang baruku yang tidak kalah hebatnya,” ujar Ryuji seraya beranjak dari kursinya. “Kau tunggu ya, aku akan mengambilnya sebentar.”
Rabu, 07 Januari 2009
Digglose' case : Murderer In The Grape Yard
Anthony Digglose, seorang detektif swasta berkebangsaan Inggris, sedang duduk menghadapi laptopnya di ruang kerjanya yang kecil tapi cukup nyaman. Dengan lincahnya ia menggerakkan jari-jarinya dan membaca satu per satu surat yang masuk ke alamat e-mailnya. Matanya tertegun sejenak ketika ia membuka salah satu surat yang masuk. Vogue Boudelair, seorang sahabat Digglose yang sekaligus menjabat sebagai Kepala Bagian Divisi Investigasi Kepolisian Paris, mengiriminya sebuah surat yang isinya tentang kasus yang dihadapinya. Sudah beberapa kali Vogue bertanya tentang kasus-kasus yang tidak bisa diselesaikannya, dan dijawab oleh Digglose dengan hipotesanya yang jitu. Digglose pun segera membaca dan berusaha untuk memecahkan kasusnya kali ini.
Jumat, 21 November 2008
Digglose's Life 1
Yup ini blog pertama gw, berhubung jam sudah menunjukkan pukul 11:15 PM, dimana saatnya gw udah berpindah alam dan kehilangan kesadaran, nah maka itu daripada gw repot2 nulis panjang2 (emg dasar gw lagi juga males sih...), nih gw sajiin salah satu coret-coretan tangan gw dikala gw duduk di depan kompie, ngelamun, dan iseng mau ngapain, dan akhirnya gw nulis cerita sisi lain kehidupan dari seorang Anthony Digglose ( sumpah pasti pda ga tau kan, nanti dah gw ceritain siapa tuh digglose yang paling keren itu hueheheheh...)
Gw nulis nih cerita udah agak lama sih, tapi gw suka aja sudut pandang dari penceritaan ini. Yah pokoke baca dah...enjoy ya
26 Juli 2008 – 08.39 pm, London
Anthony Digglose bersandar pada kursi di ruang kerjanya dan mencoba meneguk lagi sisa whisky yang sudah diminumnya dari tadi. Rasanya sama seperti apa yang ia rasakan beberapa menit sebelumnya. Tawar dan dingin. Persis seperti air yang sudah disimpan dalam botol selama beberapa hari. Ia tidak tahu apakah ini whisky terburuknya ataukah hatinya yang mengirim sensor keburukan itu pada setiap sel-sel di tubuhnya.
Tanpa mau mempermasalahkan itu ia meletakkan gelasnya dengan hati-hati di pinggir mejanya dan kembali dengan apa yang sedang ia lakukan dari tadi. Merenung akan apa yang selama ini mengganggu perasaannya. Ia sudah bertindak bodoh. Benarkah?
Ia tidak bisa menjawabnya, dan itu cukup membuatnya frustasi beberapa hari belakangan ini. Ini bukan mengenai kasusnya. Sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kasus pembunuhan di Hastings kemarin, atau peristiwa pencurian terbesar yang terjadi di Bexhill tadi pagi.
Tidak. Bukan itu semua yang membuatnya gelisah. Hal-hal itu tak akan membuatnya mempunyai pikiran serumit ini. Kasus-kasus itu hanya dianggapnya sebagai latihan kecil untuk sistem otaknya, membuatnya bekerja segaimana seperti yang harus dilakukan.
Setiap orang mempunyai pikiran yang terdalam dari hidup pribadinya, itu yang ia yakini selama ini. Dan itu yang sedang membuatnya resah bukan main. Semuanya tak sesederhana seperti ia membuat hipotesanya. Segalanya tak bisa diselesaikan dengan hukum deduksi yang biasa ia lakukan. Tetapi perasaan, dan ini satu-satunya kelemahan yang diakui Digglose. Ia tahu bahwa titik lemahnya berada pada saat-saat seperti ini, dan tidak jarang ia mengeluh untuk mengatasinya.
Hidup, perasaan, dan cinta.
Semua yang dianggapnya keomongkosongan selama ini terpaksa berdiri di depannya, seolah memaksanya untuk berduel. Siapa yang lebih unggul dan siapa yang lemah.
Dengan menghela napas panjang, Digglose menarik keluar laci di bawah mejanya dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Sebuah foto, diselipkan di sebuah pigura kecil berwarna perak, yang ia anggap sebagai sisa kehidupannya di sana. Ia lebih rela kehilangan apa pun dalam hidupnya dari pada ia harus kehilangan foto itu.
Ia menyalakan lampu baca di mejanya dan melihat foto itu tepat dibawahnya. Pancaran cahaya kuning lampu itu menambah efek dramatis pada foto itu. Gambarnya tidak banyak berubah sejak ia memilikinya. Semuanya masih tampak sama. Seorang gadis, tersenyum dan menampakkan kepolosan wajahnya yang cantik.
Anne Harker, desah Digglose dalam hati.
Ia tidak pernah menyangka sebelumnya kalau seluruh hidupnya akan terlibat dalam drama percintaan dengan Anne. Ia sama sekali tidak pernah melupakannya. Pertemuan pertamanya dalam suatu kasus, beradu hipotesa yang menyenangkan, dan persahabatan yang baik, hingga berujung pada perubahan peran sebagai sepasang kekasih.
Digglose mencoba mengingat lagi berapa lamakah mereka terjalin dalam hubungan itu. Satu.., tidak, dua tahun, kah? Tidakkah lebih dari itu? Astaga!, katanya dalam dalam hati. Hubungan yang tidak terduga itu hanya sanggup bertahan selama itu. Benarkah tidak bisa lebih dari itu?
Digglose menggelengkan kepalanya sembari mengomeli dirinya sendiri.
Jelas sekali ini semua karena kebodohannya. Ya, bodoh. Tidak ada kata lain yang lebih tepat dari pada itu. Sekarang yang timbul dalam hatinya adalah kekecewaan dan penyesalan. Seolah-olah mereka mengikutinya terus, mengolok-oloknya, dan meneriakan kemenangan yang keras tepat di depan wajahnya. Akhirnya, walau ia malu mengakui, bahwa Digglose telah tumbang dari kemasyurannya. Dengan apakah? Ya, tak lain, seorang wanita.
Digglose masih tidak bisa percaya kenapa ia bisa bertindak sebodoh itu.
Meminta Anne untuk mengakhiri hubungan mereka.
Gila, kah, aku? Apa aku masih sadar saat itu?
Entah pikiran apa yang merasukinya, tapi ia jelas menyesal. Anne, seorang gadis yang begitu sempurna di matanya, disia-siakan begitu saja. Tidak tahu, kah, betapa ia mencintainya? Tidak tahu, kah, kalau Anne sudah begitu memberikan hatinya hanya pada Digglose seorang?
Ah, lagi-lagi kebodohan itu yang disesalinya.
Digglose menatap foto itu lama sembari membayangkan masa-masa indahnya bersama Anne beberapa waktu lalu. Kesan yang sempurna, bagaikan maha karya yang tak ternilai harganya dan tak dapat dibandingkan dengan apa pun. Sungguh perasaan yang tidak mengenakkan untuk mengenangnya. Tapi mau bagaimana lagi. Hanya itu satu-satunya cara Digglose untuk melihat bagaimana sosok Anne yang dikenalnya.
Masih ingat, kah, ia padaku?, tanya Digglose sendiri.
Apa ia masih mencintaku?, tanyanya lagi dengan sedikit keberanian.
Pertanyaan-pertanyaan ini yang selalu terbesit dalam hatinya. Ia sama sekali tidak berani menduga, bahkan dengan instingnya yang paling jitu sekali pun. Seperti yang sudah ia pahami dari dulu, bahwa perasaan sangat bertolak belakang dengan pikiran. Ia sekarang tidak sanggup memikirkan jawaban dari semua itu. Terlebih lagi ia takut. Takut akan jawaban yang paling buruk yang sama sekali tidak ingin didengarnya.
Anne Harker memang sudah memberi banyak sumbangan dalam setiap kisah hidup Digglose sendiri. Namun semua itu harus berakhir dengan sebuah kekecewaan. Sebuah kenyataan pahit harus memisahkan mereka. Apa memang kenyataan yang bertindak begitu? Atau Digglose sendiri yang menciptakannya?
Satu hal yang jelas adalah bahwa Digglose sudah berusaha yang terbaik untuk hubungan mereka. Namun entah kenapa keadaan semakin memburuk dan sangat tidak memungkinkan jika Digglose terus berhubungan dengan Anne, yang tanpa arah dan tujuan yang pasti. Karena itu suatu keputusan berani harus diambil. Perpisahan untuk yang terbaik.
Ia sangat tahu bahwa Anne kecewa saat itu. Hancur dan sedih. Pasti. Namun keputusan itu memang harus diambil, entah sekarang atau pun di kemudian hari.
Tapi apakah memang benar seperti itu?
Apakah itu jalan yang tepat?
Atau itu keputusan yang sama sekali salah untuknya?
Digglose lagi-lagi tidak bisa memperkirakannya. Namun saat itu ia hanya berpikir kalau langkahnya tepat. Ya, jelas itu kesalahannya. Tidak biasanya ia berpikir tanpa perhitungan. Biasanya setiap tindakan yang ia ambil selalu sesuai dengan perkiraannya.
Ia benar-benar menyesal saat ini. Bagaimana kalau Anne tak akan pernah memaafkannya? Bagaimana jika Anne ternyata akan pergi untuk selamanya? Tidak. Digglose tidak berani memikirkan kemungkinan itu lebih jauh.
Namun semua tindakan serampangan ini memang beralasan bagi Digglose. Ia mempunyai alasannya sendiri, yang ia simpan jauh di dalam dirinya. Tak seorang pun tahu, termasuk Anne sendiri. Mungkin itu kesalahan yang ia buat juga. Ia sama sekali tidak pernah menceritakan alasan apa pun pada Anne mengenai keputusannya.
Ini juga kebiasaan buruk Digglose yang selalu dimilikinya. Ia tidak pernah menceritakan apa pun tentang setiap kesulitan yang dihadapinya. Ia ingin menyimpannya sendiri, dan bertindak apa pun sendiri, seolah ingin menampilkan sosoknya yang tangguh dan menutupi segala kehancuran dan kelemahannya.
Satu-satunya hal yang ia harapkan adalah bahwa Anne bisa mengerti tentang alasannya itu. Apa ia memang mengerti? Apa ia tahu kenapa aku harus berbuat seperti itu? Mengingat apa profesi Anne seharusnya ia tahu dengan tepat apa alasan dari semua ini. Ya, seharusnya ia tahu.
Apa ia memang tidak mengerti? Dan membenci serta melupakan Digglose tanpa sebab yang jelas yang tidak ia ketahui?
Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan di kepala Digglose yang tidak bisa dijawabnya. Dalam hatinya ia ingin jawaban itu ada. Ia ingin tahu bahwa mungkin segalanya akan berubah baik nanti. Mungkin saja.
Sambil meletakkan foto itu dengan hati-hati di mejanya, Digglose melirik pesawat telepon di sampingnya dengan penuh harap. Sudah berapa lama telepon itu tidak mengeluarkan suara Anne? Setiap dering telepon yang didengarnya selalu membangkitkan semangat Digglose, namun segera kecewa dengan apa yang didengarnya. Jika bukan dari Scotland Yard, pastilah Inspektur Vouge yang meneleponya jauh-jauh dari Paris, yang tak lain hanya meminta bantuan dalam suatu kasus. Tidak ada suara Anne, ataupun suatu petunjuk tentang Anne sekali pun.
Digglose meraih gagang teleponnya dan mendengar nada panggil dari situ. Bunyi itu seolah menghipnotisnya. Beranikah aku menghubunginya sekarang? Tidak. Jika aku memang menghubunginya sekarang, apa yang dapat kulakukan? Keadaan sama sekali belum berubah.
Dengan perasaan kecewa Digglose kembali meletakkan gagang telepon itu. Ia sama sekali tidak berani untuk melakukannya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Mungkinkan Anne akan menerimanya lagi dalam hidupnya? Mungkinkah? Jawaban terburuk jelas bahwa Anne sudah melupakannya sama sekali.
Beberapa malam yang dilewati Digglose tidak pernah lepas dari bayang-bayang Anne. Ia selalu memikirkannya. Sedang dimanakah ia? Paris? New York? Atau London? Ada suatu kasus kah yang sedang dikerjakannya? Dan pertanyaan paling sering diajukannya, apa ia masih memikirkanku?
Benar-benar suatu ironi yang menyedihkan. Digglose tidak bisa membayangkan bagaimana kalau orang lain sampai tahu tentang apa yang ia rasakan ini. Selama ini ia sangat pandai berpura-pura untuk berperan bahwa segalanya berjalan dengan baik dalam hidupnya. Hatinya yang sudah begitu hancur dicoba untuk disembunyikannya kuat-kuat. Digglose yang dikenal adalah Digglose yang tangguh dan kuat, bukan Digglose yang remuk dan rapuh.
Ia sungguh berharap bahwa keadaan akan segera berubah. Ia tidak tahu kapan. Namun ia tetap berharap untuk itu. Walau ia tahu bahwa kemungkinan terburuk bisa saja terjadi, ia tidak pernah melepaskan apa pun yang sudah ia tetapkan.
Baginya hanya Anne seorang, tak ada yang lain. Dengan harapan dan angan yang kecil ia terus membayangkan bahwa Anne telah membawa separuh jiwanya, yang nanti akan kembali untuk membuatnya utuh kembali. Semoga saja.
Dentangan jam bandul besar di sudut ruang kerjanya membuyarkan semua pikiran yang berlarian di benak Digglose, seakan mengingatkannya bahwa realita kehidupan yang sebenarnya harus dijalani kembali. Dengan kehati-hatian yang luar biasa, Digglose kembali meletakkan foto itu dalam lacinya dan mematikan lampu mejanya. Ia lalu bangkit dari kursinya dan berjalan cepat menyeberangi ruangan. Satu malam lagi telah habis dipakainya untuk mengingat sosok kekasihnya. Dan masih seperti malam-malam sebelumnya, ia meninggalkan ruangan itu dan menutup pintunya pelan-pelan seraya berkata pada dirinya sendiri, aku akan tetap mencintaimu, Anne.
Gw nulis nih cerita udah agak lama sih, tapi gw suka aja sudut pandang dari penceritaan ini. Yah pokoke baca dah...enjoy ya
26 Juli 2008 – 08.39 pm, London
Anthony Digglose bersandar pada kursi di ruang kerjanya dan mencoba meneguk lagi sisa whisky yang sudah diminumnya dari tadi. Rasanya sama seperti apa yang ia rasakan beberapa menit sebelumnya. Tawar dan dingin. Persis seperti air yang sudah disimpan dalam botol selama beberapa hari. Ia tidak tahu apakah ini whisky terburuknya ataukah hatinya yang mengirim sensor keburukan itu pada setiap sel-sel di tubuhnya.
Tanpa mau mempermasalahkan itu ia meletakkan gelasnya dengan hati-hati di pinggir mejanya dan kembali dengan apa yang sedang ia lakukan dari tadi. Merenung akan apa yang selama ini mengganggu perasaannya. Ia sudah bertindak bodoh. Benarkah?
Ia tidak bisa menjawabnya, dan itu cukup membuatnya frustasi beberapa hari belakangan ini. Ini bukan mengenai kasusnya. Sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kasus pembunuhan di Hastings kemarin, atau peristiwa pencurian terbesar yang terjadi di Bexhill tadi pagi.
Tidak. Bukan itu semua yang membuatnya gelisah. Hal-hal itu tak akan membuatnya mempunyai pikiran serumit ini. Kasus-kasus itu hanya dianggapnya sebagai latihan kecil untuk sistem otaknya, membuatnya bekerja segaimana seperti yang harus dilakukan.
Setiap orang mempunyai pikiran yang terdalam dari hidup pribadinya, itu yang ia yakini selama ini. Dan itu yang sedang membuatnya resah bukan main. Semuanya tak sesederhana seperti ia membuat hipotesanya. Segalanya tak bisa diselesaikan dengan hukum deduksi yang biasa ia lakukan. Tetapi perasaan, dan ini satu-satunya kelemahan yang diakui Digglose. Ia tahu bahwa titik lemahnya berada pada saat-saat seperti ini, dan tidak jarang ia mengeluh untuk mengatasinya.
Hidup, perasaan, dan cinta.
Semua yang dianggapnya keomongkosongan selama ini terpaksa berdiri di depannya, seolah memaksanya untuk berduel. Siapa yang lebih unggul dan siapa yang lemah.
Dengan menghela napas panjang, Digglose menarik keluar laci di bawah mejanya dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Sebuah foto, diselipkan di sebuah pigura kecil berwarna perak, yang ia anggap sebagai sisa kehidupannya di sana. Ia lebih rela kehilangan apa pun dalam hidupnya dari pada ia harus kehilangan foto itu.
Ia menyalakan lampu baca di mejanya dan melihat foto itu tepat dibawahnya. Pancaran cahaya kuning lampu itu menambah efek dramatis pada foto itu. Gambarnya tidak banyak berubah sejak ia memilikinya. Semuanya masih tampak sama. Seorang gadis, tersenyum dan menampakkan kepolosan wajahnya yang cantik.
Anne Harker, desah Digglose dalam hati.
Ia tidak pernah menyangka sebelumnya kalau seluruh hidupnya akan terlibat dalam drama percintaan dengan Anne. Ia sama sekali tidak pernah melupakannya. Pertemuan pertamanya dalam suatu kasus, beradu hipotesa yang menyenangkan, dan persahabatan yang baik, hingga berujung pada perubahan peran sebagai sepasang kekasih.
Digglose mencoba mengingat lagi berapa lamakah mereka terjalin dalam hubungan itu. Satu.., tidak, dua tahun, kah? Tidakkah lebih dari itu? Astaga!, katanya dalam dalam hati. Hubungan yang tidak terduga itu hanya sanggup bertahan selama itu. Benarkah tidak bisa lebih dari itu?
Digglose menggelengkan kepalanya sembari mengomeli dirinya sendiri.
Jelas sekali ini semua karena kebodohannya. Ya, bodoh. Tidak ada kata lain yang lebih tepat dari pada itu. Sekarang yang timbul dalam hatinya adalah kekecewaan dan penyesalan. Seolah-olah mereka mengikutinya terus, mengolok-oloknya, dan meneriakan kemenangan yang keras tepat di depan wajahnya. Akhirnya, walau ia malu mengakui, bahwa Digglose telah tumbang dari kemasyurannya. Dengan apakah? Ya, tak lain, seorang wanita.
Digglose masih tidak bisa percaya kenapa ia bisa bertindak sebodoh itu.
Meminta Anne untuk mengakhiri hubungan mereka.
Gila, kah, aku? Apa aku masih sadar saat itu?
Entah pikiran apa yang merasukinya, tapi ia jelas menyesal. Anne, seorang gadis yang begitu sempurna di matanya, disia-siakan begitu saja. Tidak tahu, kah, betapa ia mencintainya? Tidak tahu, kah, kalau Anne sudah begitu memberikan hatinya hanya pada Digglose seorang?
Ah, lagi-lagi kebodohan itu yang disesalinya.
Digglose menatap foto itu lama sembari membayangkan masa-masa indahnya bersama Anne beberapa waktu lalu. Kesan yang sempurna, bagaikan maha karya yang tak ternilai harganya dan tak dapat dibandingkan dengan apa pun. Sungguh perasaan yang tidak mengenakkan untuk mengenangnya. Tapi mau bagaimana lagi. Hanya itu satu-satunya cara Digglose untuk melihat bagaimana sosok Anne yang dikenalnya.
Masih ingat, kah, ia padaku?, tanya Digglose sendiri.
Apa ia masih mencintaku?, tanyanya lagi dengan sedikit keberanian.
Pertanyaan-pertanyaan ini yang selalu terbesit dalam hatinya. Ia sama sekali tidak berani menduga, bahkan dengan instingnya yang paling jitu sekali pun. Seperti yang sudah ia pahami dari dulu, bahwa perasaan sangat bertolak belakang dengan pikiran. Ia sekarang tidak sanggup memikirkan jawaban dari semua itu. Terlebih lagi ia takut. Takut akan jawaban yang paling buruk yang sama sekali tidak ingin didengarnya.
Anne Harker memang sudah memberi banyak sumbangan dalam setiap kisah hidup Digglose sendiri. Namun semua itu harus berakhir dengan sebuah kekecewaan. Sebuah kenyataan pahit harus memisahkan mereka. Apa memang kenyataan yang bertindak begitu? Atau Digglose sendiri yang menciptakannya?
Satu hal yang jelas adalah bahwa Digglose sudah berusaha yang terbaik untuk hubungan mereka. Namun entah kenapa keadaan semakin memburuk dan sangat tidak memungkinkan jika Digglose terus berhubungan dengan Anne, yang tanpa arah dan tujuan yang pasti. Karena itu suatu keputusan berani harus diambil. Perpisahan untuk yang terbaik.
Ia sangat tahu bahwa Anne kecewa saat itu. Hancur dan sedih. Pasti. Namun keputusan itu memang harus diambil, entah sekarang atau pun di kemudian hari.
Tapi apakah memang benar seperti itu?
Apakah itu jalan yang tepat?
Atau itu keputusan yang sama sekali salah untuknya?
Digglose lagi-lagi tidak bisa memperkirakannya. Namun saat itu ia hanya berpikir kalau langkahnya tepat. Ya, jelas itu kesalahannya. Tidak biasanya ia berpikir tanpa perhitungan. Biasanya setiap tindakan yang ia ambil selalu sesuai dengan perkiraannya.
Ia benar-benar menyesal saat ini. Bagaimana kalau Anne tak akan pernah memaafkannya? Bagaimana jika Anne ternyata akan pergi untuk selamanya? Tidak. Digglose tidak berani memikirkan kemungkinan itu lebih jauh.
Namun semua tindakan serampangan ini memang beralasan bagi Digglose. Ia mempunyai alasannya sendiri, yang ia simpan jauh di dalam dirinya. Tak seorang pun tahu, termasuk Anne sendiri. Mungkin itu kesalahan yang ia buat juga. Ia sama sekali tidak pernah menceritakan alasan apa pun pada Anne mengenai keputusannya.
Ini juga kebiasaan buruk Digglose yang selalu dimilikinya. Ia tidak pernah menceritakan apa pun tentang setiap kesulitan yang dihadapinya. Ia ingin menyimpannya sendiri, dan bertindak apa pun sendiri, seolah ingin menampilkan sosoknya yang tangguh dan menutupi segala kehancuran dan kelemahannya.
Satu-satunya hal yang ia harapkan adalah bahwa Anne bisa mengerti tentang alasannya itu. Apa ia memang mengerti? Apa ia tahu kenapa aku harus berbuat seperti itu? Mengingat apa profesi Anne seharusnya ia tahu dengan tepat apa alasan dari semua ini. Ya, seharusnya ia tahu.
Apa ia memang tidak mengerti? Dan membenci serta melupakan Digglose tanpa sebab yang jelas yang tidak ia ketahui?
Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan di kepala Digglose yang tidak bisa dijawabnya. Dalam hatinya ia ingin jawaban itu ada. Ia ingin tahu bahwa mungkin segalanya akan berubah baik nanti. Mungkin saja.
Sambil meletakkan foto itu dengan hati-hati di mejanya, Digglose melirik pesawat telepon di sampingnya dengan penuh harap. Sudah berapa lama telepon itu tidak mengeluarkan suara Anne? Setiap dering telepon yang didengarnya selalu membangkitkan semangat Digglose, namun segera kecewa dengan apa yang didengarnya. Jika bukan dari Scotland Yard, pastilah Inspektur Vouge yang meneleponya jauh-jauh dari Paris, yang tak lain hanya meminta bantuan dalam suatu kasus. Tidak ada suara Anne, ataupun suatu petunjuk tentang Anne sekali pun.
Digglose meraih gagang teleponnya dan mendengar nada panggil dari situ. Bunyi itu seolah menghipnotisnya. Beranikah aku menghubunginya sekarang? Tidak. Jika aku memang menghubunginya sekarang, apa yang dapat kulakukan? Keadaan sama sekali belum berubah.
Dengan perasaan kecewa Digglose kembali meletakkan gagang telepon itu. Ia sama sekali tidak berani untuk melakukannya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Mungkinkan Anne akan menerimanya lagi dalam hidupnya? Mungkinkah? Jawaban terburuk jelas bahwa Anne sudah melupakannya sama sekali.
Beberapa malam yang dilewati Digglose tidak pernah lepas dari bayang-bayang Anne. Ia selalu memikirkannya. Sedang dimanakah ia? Paris? New York? Atau London? Ada suatu kasus kah yang sedang dikerjakannya? Dan pertanyaan paling sering diajukannya, apa ia masih memikirkanku?
Benar-benar suatu ironi yang menyedihkan. Digglose tidak bisa membayangkan bagaimana kalau orang lain sampai tahu tentang apa yang ia rasakan ini. Selama ini ia sangat pandai berpura-pura untuk berperan bahwa segalanya berjalan dengan baik dalam hidupnya. Hatinya yang sudah begitu hancur dicoba untuk disembunyikannya kuat-kuat. Digglose yang dikenal adalah Digglose yang tangguh dan kuat, bukan Digglose yang remuk dan rapuh.
Ia sungguh berharap bahwa keadaan akan segera berubah. Ia tidak tahu kapan. Namun ia tetap berharap untuk itu. Walau ia tahu bahwa kemungkinan terburuk bisa saja terjadi, ia tidak pernah melepaskan apa pun yang sudah ia tetapkan.
Baginya hanya Anne seorang, tak ada yang lain. Dengan harapan dan angan yang kecil ia terus membayangkan bahwa Anne telah membawa separuh jiwanya, yang nanti akan kembali untuk membuatnya utuh kembali. Semoga saja.
Dentangan jam bandul besar di sudut ruang kerjanya membuyarkan semua pikiran yang berlarian di benak Digglose, seakan mengingatkannya bahwa realita kehidupan yang sebenarnya harus dijalani kembali. Dengan kehati-hatian yang luar biasa, Digglose kembali meletakkan foto itu dalam lacinya dan mematikan lampu mejanya. Ia lalu bangkit dari kursinya dan berjalan cepat menyeberangi ruangan. Satu malam lagi telah habis dipakainya untuk mengingat sosok kekasihnya. Dan masih seperti malam-malam sebelumnya, ia meninggalkan ruangan itu dan menutup pintunya pelan-pelan seraya berkata pada dirinya sendiri, aku akan tetap mencintaimu, Anne.
Langganan:
Postingan (Atom)






