Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Juli 2011

Review Buku : Hush, Hush


Judul        : Hush, Hush
Penulis     : Becca Fitzpatrick
Penerbit   : Ufuk Press
Tebal       : 488 halaman
Rating      : 2/5

Saya sesungguhnya sudah menyelesaikan novel ini jauh sebelum saya menulis review ini. According to Goodreads, saya sudah mulai membuka halaman pertama ini pada tanggal 7 Mei 2011, dan berhasil menyikat habis kurang lebih dalam waktu 3-4 hari. Pantaskah diberi pujian pada buku ini hingga saya bisa secepat itu menyelesaikannya? Well, biasanya ada dua alasan konkret kenapa saya sampai ngebut dengan kecepatan penuh pada saat membaca buku. Pertama adalah buku itu benar-benar menarik hingga saya susah untuk menutup buku itu, atau kedua buku itu benar-benar datar, gak penting, hingga saya cepet-cepet menyelesaikannya sebelum mood saya bertambah buruk (lebih baik saya baca daripada saya robek). Nah, bagaimana sengan si Hush Hush ini? Kita lacak saja satu per satu isinya untuk tahu alasan mana yang saya pakai untuk menyelesaikan buku ini.

Jumat, 13 Mei 2011

Review Buku : Water For Elephants

Judul        : Water For Elephants
Penulis     : Sara Gruen
Penerbit   : Gramedia Pustaka Utama
Tebal       : 506 halaman
Rating      : 5/5

Pernahkah anda ketika membaca suatu buku, dan buku itu bener-bener susah untuk ditutup? Dan ketika anda benar-benar menutup buku itu, bukan karena anda bosan dengan ceritanya, namun karena mata dan punggung anda sudah terlalu lelah?

Kalau saya ditanya dengan pertanyaan itu, saya akan jawab pernah.
Saya masih ingat buku-buku apa saja yang dulu pernah menghipnotis saya seperti itu, dan beberapanya adalah buku-buku ini :
Dari genre fantasi, ada novel serial Harry Potter karya J.K.Rowling yang sangat fenomenal. Kalau dari genre misteri & suspense, The Da Vinci Code karya Dan Brown lah juaranya. Dan kalau untuk genre roman/cinta-cintaan, saya bisa menyebutkan Dear John karya Nicholas Sparks yang cukup sukses untuk terus nempel di kelapa saya. Nah, kemudian sekarang ini saya menemukan lagi novel semacam itu, yakni Water For Elephants karya Sara Gruen. Ya, menurut saya Water For Elephants merupakan buku dengan daya pikat yang menarik hingga saya merasa ikut terhanyut dalam alur ceritanya.

Rabu, 04 Mei 2011

Review Buku : I Am Number Four



Judul       : I Am Number Four (Buku pertama seri The Lorien Legacies)
Penulis    : Pittacus Lore
Penerbit  : Mizan Fantasi
Rating     : 3/5

Yah, mungkin bagi sebagian orang yang iseng-iseng buka review ini bisa teriak dan jerit-jeritan “Woi Telat loe!!!!’ … “What?! Hari gini baru ngomongin si Nomor Empat!!!” …

*pasang muka cuek*
Yeah, whatever-lah dengan omongan para tetangga. Beda orang, beda kepala, pasti beda juga dengan cara pandang dan penilaiannya. Dan inilah review saya, yang baik buruknya harap ditelan secara bijak.

Oke, hari ini kita akan membahas satu novel fantasi bertajuk I AM NUMBER FOUR.
Pertama, (maaf kalau udah negatif opini duluan) saya agak kurang sreg dengan cover novel ini. Kenapa ya, entah penikmat novel yang lain merasa atau tidak, rasanya kalau cover suatu novel berisi gambar seseorang yang nyata itu gak catchy banget untuk dilihat. Parahnya lagi, orang yang ada di cover itu adalah actor/actress yang berperan dalam novel yang sudah difilmkan tersebut. Salah satu korbannya sekarang ini adalah novel I Am Number Four, dimana covernya bergambar Alex Pettyfer yang lagi jalan dengan gaya dan tatapan (sok) cool. Tapi agak sedikit aneh, kenapa struktur wajah di cover itu rada beda sedikit sama struktur asli Alex Pettyfer di filmnya ya, apa itu hasil polesan, atau jangan-jangan gambar di cover itu cuma Alex Pettyfer wannabe. LoL Gak tau pasti deh, yang jelas saya tetep gak suka ngeliat cover novel yang cuma jadi korban dari filmnya. Kenapa sih gak pake ilustrasi apa kek gitu yang keren, yang catchy, yang artistik, yang seenggaknya menunjukkan kreatifitas para ilustrator cover. (Jadi inget cover Twilight Saga yang sekarang bertebaran muka Kristen Stewart dan Taylor Lautner, bikin saya nepok jidat waktu ngeliatnya)

Minggu, 10 April 2011

Review Buku : The Divide

Judul      : The Divide
Penulis   : Nicholas Evans
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Rating    : 2.5/5

Saya menutup novel ini dengan perasaan yang saling tumpang tindih. Pertama rasa bete yang berkepanjangan, rasa (sedikit) berdebar-debar di penghujung akhir, hingga perasaan lega karena berhasil menyelesaikan novel ini dengan usaha yang keras. Segitu kerasnya, kah? Ya kurang lebih menguras batin dan fisik saya (baca: capek).

Sebelum saya kupas lebih jauh tentang apa yang saya keluhkan dan apa yang membuat saya ber-debar2, ada baiknya kita tengok dulu apa isi dan keseluruhan cerita yang dibangun dalam novel ini.

Jumat, 01 April 2011

Review Buku : The Choice

Judul      : The Choice
Penulis   : Nicholas Sparks
Penerbit :Gramedia Pustaka Utama
Rating    : 3/5

Lagi, setelah beberapa karya Nicholas Sparks yang berhasil menghipnotis saya, kini hadir kembali sebuah cerita yang tidak kalah menariknya, yang mencampur aduk perasaan saya di sepanjang kisah di novel ini. Ada perasaan senang dan bergairah yang timbul, kalut, sedih, hingga bergetar menyaksikan sebuah ending cerita yang cukup menyentuh. Ya, ini memang adalah sebuah ciri khas dari Nicholas Sparks yang ada dalam setiap tulisannya, yang meskipun sederhana, mampu menyedot pembaca dalam sebuah alur cerita hingga pembaca melibatkan perasaannya sendiri dalam cerita itu. How amazing...


Selasa, 19 Mei 2009

Review Buku : Smoke Jumper

Judul      : Smoke Jumper
Penulis   : Nicholas Evans
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Rating    : 4/5

"Smoke Jumper", sebuah novel karya Nicholas Evans yang begitu sarat akan arti hidup dan cinta ini memang layak diberikan suatu pujian sebagai bacaan ringan namun bermakna.
Entah unsur apa yang tersimpan, atau daya magis apa yang tersembunyi, novel ini mampu menyajikan setiap kata-kata dan penceritannya dengan menarik,
sehingga mau tidak mau kita dibuai dengan lembar demi lembar dari semua kisah yang ada di dalamnya.

Sudut pandang yang digunakan dalam novel "Smoke Jumper" juga tidak terpaku hanya pada satu tokoh, tetapi di ambil dari beberapa tokoh,
yang menyebabkan alur cerita menjadi lebih menarik karena pembaca diberikan satu alur cerita dengan pikiran dan pandangan dari setiap tokoh-tokoh tersebut.

Sebenarnya untuk tema ceritanya sendiri tidaklah terlalu berat dan tidak berbelit-belit.
Dalam novel ini diceritakan tentang tiga tokoh utama yang terlibat cinta segi tiga, yaitu Connor Ford, Julia Bishop, dan Edward Tully.
Connor Ford dan Edward Tully adalah sesama pejuang Smoke Jumper, yakni para pemadam kebakaran hutan yang ekstrem dengan cara terjun dari pesawat untuk memadamkan titik-titik penyebaran api.

Meskipun judul ini adalah "Smoke Jumper", namun segi penceritaan dari sisi Smoke Jumper itu sendiri hanyalah seperti sebuah singgungan-singgungan kecil pada awal cerita.
Keseluruhan ceritanya berputar pada kisah cinta antara ketiga tokoh tersebut.
Julia Bishop adalah kekasih dari Edward Tully yang dipertemukan dengan cara yang unik dan tak terduga.
Hubungan mereka berjalan dengan baik dan harmonis, dan bahkan seolah-olah takdir memang sudah menjadikan mereka pasangan sejati sebelum mereka sempat bertemu.

Namun cinta tetaplah cinta, suatu perasaan aneh yang terkadang kita sendiri tidak bisa mengontrolnya.
Itulah yang dirasakan Julia saat berkenalan dengan Connor, ada suatu perasaan aneh dalam dirinya yang ia takut untuk mengakuinya sebagai cinta.
Waktu demi waktu berjalan, dan kisah demi kisah diceritakan, dan cinta Julia terhadap Connor sudah tumbuh sama dalamnya dengan cintanya terhadap Edward.
Namun sebagai wanita, dan menyadari kepada siapa ia harus setia, Julia tetap mempertahankan cintanya pada Edward.

Tapi apakah Julia bisa mengubur perasaannya terhadap Connor?
Apakah Connor rela melepaskan Julia begitu saja?
Atau apakah Edward akan berkorban untuk orang yang paling dicintainya?

Inilah yang membuat novel ini begitu menarik.
Kisah cintanya disajikan dengan sederhana namun begitu memiliki banyak arti dan menyentuh.
Melalui novel ini kita mampu mengenal akan arti hidup, bagaimana kita mengenal cinta, dan mengetahui seberapa besar pengorbanan yang diperlukan untuk cinta itu.
Satu lagi nilai positif dalam novel ini adalah konflik yang disajikan tidak diberikan secara negatif dan gamblang, tetapi dengan tersirat sehingga pembaca bisa menelaah sendiri setiap makna dari kisah yang terjadi.
Untuk penggambaran watak juga disajikan dengan baik dan sesuai dengan alur dan tujuan cerita.

Well over all menurut saya novel ini layak untuk dimasukkan dalam daftar baca anda.

Selamat Membaca !!!!!

Rabu, 31 Desember 2008

Review Buku : Deception Point

Judul      : Deception Point
Penulis   : Dan Brown
Penerbit : Serambi
Rating    : 3/5

Ahh akhirnya selesai juga baca "Deception Point" yang gw beli dengan harga super murah ini hehehehe
Agak lama ya gw bacanya, biasalah tertunda dengan kesibukan lainnya.

Hmmppp....oke2, kita bahas ya bukunya.
Pertama kali gw beli buku ini sih gw berharap akan menemukan ketegangan dan keterkejutan kyak baca "The Davinci Code".
Tau sendri kan, buku2 Dan Brown tuh kyak apa.
Alur cepat, penuh misteri dan tebakan, dan akhir yang tak terduga.

Tapi "Deception Point" ini beda dari biasanya.
Ceritanya berjalan lambat banget, bertele-tele, dan (ini yang paling gw benci) ceritanya tuh udah ketebak banget. Dari pertengahan novel aja gw udah bisa tau siapa otak kejahatannya. Ga biasanya, Dan Brown sangat terbuka dalam memberi petunjuk siapa pelakunya.

Dari sisi penceritaan juga agak sedikit ga masuk akal
Ceritanya tentang penemuan meteorit oleh NASA yang ternyata palsu cuma untuk politik pemilu Presiden USA. Kyaknya ga mungkin banget ya suatu penemuan besar kyak gitu untuk dipalsukan. Yah mengingat betapa maju dan berkembangnya para ilmuan di Amerika.
Dan anehnya lagi, para ilmuan di novel itu seolah2 gmpang banget ditipu, kyak IQnya pada jongkok semua. Dan yang bikin ngeselin, cara terbongkarnya penipuan itu sederhana banget. Jadi klo dipikir2, ngapain buat suatu penipuan yang cacatnya tertalu banyak itu, dan di depan para ilmuan pula.

Yah tapi lagi2 itu kan cuma novel
Mungkin Dan Brown nulis ini sambil maksa kali ya, buat bikin fenomena kedua setelah "The Davinci Code".
Meskipun gw agak kecewa dengan novel ini, tapi masih layak untuk dibacalah
Itung2 cari pengetahuan tentang sistem pemerintahan USA yang ribetnya minta ampun.

So i give this book three stars